02 April 2009

PEMILU 2009

PEMILU 2009
KONTRAK POLITIK

Istilah kontrak politik berarti mengadakan perjajian antara organisasi politik dengan organisasi politik, atau antara organisasi politik dengan masyarakat untuk mencapai kesepakatan, kerjasama, bagi hasil, tugas-tugas atau hal lain yang disepakati berdasarkan perolehan hasil setelah pemilu.

Setiap pemilu berangsung pasti ada kompanye. Tentunya peserta pemilu akan melakukan jual kecap. Sebagai penjual kecap tentu kecapnya selalu nomor 1. partainya selalu dikatakan yang terbaik dan paling TOP. Tahap ini mungkin wajar dan sah-sah saja. Tetapi bagaimana kalau ada partai atau caleg yang menggumbar janji.

PERANG SPANDUK

Banyak sepanduk dan baliho di kiri kanan jalan. Mulai dari ukuran folio, ukuran A0, ukuran A3, sampai ukuran kira-kira se-lapangan tenis meja. Dan biasanya itulis dengan kata-kata persuasip seperti iklan.
Bagi caleg yang baru, mungkin spanduknya biasa-biasa aja, tapi kalo caleg sudah menjabat di DPR atau DPRD, mungkin gajinya sebulan dihabiskan untuk buat spanduk/baliho. Itung-itung kalo gaji sebulan 25 juta, buat iklah 20 juta masih berani.
Satu bulan sebelum pemilu, gambar-gambar caleg terpampang di pinggir-pinggir jalan. Hampir semua Caleg mampang fotonya. Apalagi caelg baru yang belum punya massa.
Kira-kira 2 minggu, spanduk dan gambar-gambar itu mulai rusak. Ini karena cuaca seperti angin, talinya putus, atau kesenggol mobil, soalnya terlalu mepet di jalan. dan sebagainya. Pada tahap ini muncul lagi spanduk baru/ baliho baru khususnya untuk caleg-caleg yang duitnya cukup banyak. Ini berlangsung terus sampai kira-kira 15 hari sebelum pemilu. Kelihatan disini caleg yang duitnya banyak ama yang Cuma sekedar ikut-ikutan. Apalagi kalo caleg Cuma sekedar nyantum nama, biasanya kaga ada gaungnya sama sekali dimasyarakat.

PERANG SPANDUK BUKAN HARAPAN RAKYAT

Jika untuk advertaising / iklan spanduk satu tahap menghabiskan duit sampe 20 juta, berarti kira-kira untuk iklan spanduk dalam 3 tahap aja itu duitnya udah 60 juta. Masya Allah, dana sebesar ini habis hanya untuk spanduk.
Seumpama dana itu dimanfaatkan untuk perbaikan-perbaikan mushollah atau mesjid atau tempat ibadah lainya, berapa banyak pahala yang mengalir kepada caleg. Sedangkan kita tahu pahala jariyah itu mengalir terus walaupun sang pemberi telah meninggal dunia. Jika sang pemberi iklas mungkin bisa didoakan oleh jamaah masjid atau jamaah musholla agar sang caleg menang. Dan seumpama kaga menang juga, beliau telah mempunyai pahala yang banyak untuk bekal di akherat.


CALEG YANG CERDAS

Bagi caleg yang cerdas, mereka bukan hanya memiliki gelar didepan maupun dibelang namanya. Tetapi lebih cerdas lagi kalau mereka bisa mengetahui keinginan rakyat. Dan tentunya bukan hanya mengetahui keinginan rakyat tetapi memiliki perencanaan yang matang sehinga investasi dana yang dikeluarkan akan menghasilan banyak manfaat. Dan ujung-ujungnya dia berhasil naik menjadi dewan legislatif.

Perhatikan baik-baik caleg yang cerdas di sekitar kita. Pengaruh dan gaungnya pun akan nampak. Dimasyarakat tentu berbeda-beda keinginan dan kebutuhannya. Untuk masyarakat ekonomi menengah kebawah umumnya mereka menginginkan bukti nyata kontan.

KONTRAK POLITIK DI MASYARAKAT

Kontrak politik dimasyarakat pada level terendah terjadi di lingkungan RW. hal ini karena beberapa hal berikut : RW memiliki daftar pemilih yang tetap dan tidak terjadi pemilih sinlang. Artinya sang pemilih hanya bisa memilih di dalam RW masing-masing.
Peribahasa yang mengatakan “MACAN DIPEGANG BUNTUTNYA, sedang ORANG DIPEGANG OMONGANNYA” mungkin jaman sekarang peribahasa ini tidak bisa di jadikan bahan keyakinan caleg akan kemenangannya. Sebab banyak dari masyarakat yang bicara saya akan pilih caleg A, tetapi kenyataannya pada saat pemilu mungkin berbeda, kita tidak dapat memegang omongannya.

Begitu juga dengan caleg yang banyak berjanji. Apakah janji-janji sang caleg dapat dipegang.

KONTRAK POLITIK DI ATAS MATERAI

Ketika sang caleg berjanji tertentu pada pak RW, “We kalo nama saya menang di sini, saya akan membangung .................... di lingkungan sini”. Pak RW yang memiliki 4 TPS dengan jumlah hampir 2000 suara di lingkungannya, tentu berusaha untuk memenangkan caleg tersebut. Tentunya dengan cara yang tidak melangar undang-undang dan baik.
Pak RW pun pinter, diangsronginlah surat kontrak bertanda materai untuk menandatangi kontrak. Pak RW pun tidak hanya satu caleg, untuk tingkat DPRD satu caleg untuk tingkat DPR satu caleg dan untuk tigkat DPD satu caleg, berarti sudah ada 3 perjajian kontrak politik.

MENGAPA TIDAK KONTRAK PADA PAK LURAH

Lurah tidak memiliki warga. Yang memiliki warga adalah RW. Lagi pula di tingkat Kelurahan masyarakat terlalu flural apalagi di jakarta.

CALEG TAK BERKUTIK

Ketika sang caleg berjanji di depan publik terutama di lingkungan RW/RT, siap-siaplah warga untuk meminta perjanjian / kontrak politik. Sehingga sang caleg diam dan tidak bisa berbuat apa-apa kalau dia belum cukup secara finansial keuangannya. Kedepan caleg yang akan menang adalah caleg yang memiliki keuangan / finansial cukup. Selain itu caleg yang menang adalah caleg yang memiliki massa. Atau pengaruh yang besar di masyarakat.
Sang caleg pun berhati-hati sekali dalam masalah ini, jika dia tidak hati-hati dia bisa diciduk ama PANWASLU LAPAR, soalnya selama berlangsungnya kampanye panwaslu selalu patroli dan kaga segen-segen memeras caleg.

CALEG MENINGGAL SEBELUM PEMILU

Meningalnya Ketua FBR yaitu H. Fudholi El Muhir yang juga Caleg DPD No. 2, sempat sangat disangangkan oleh masyarakat betawi. H. Fudholi adalah orang betawi satu-satunya yang terjun didunia politik dan memiliki massa yang cukup banyak. Beliau pernah menjabat penasehat presiden. Padahal beliau berasal dari masyarakat betawi pinggiran.
Beliau meninggal pada tanggal 29 Maret 2009, dan dimakamkan besoknya yaitu pada tanggal 30 Maret 2009. banyak dari kalangan politikus, pemerintahan, dan pimpinan persahaan yang ikut melayat dan memberikan karangan bunga. Bahkan baru kali ini saya melihat orang betawi yang lantang mengaku betawi memiliki penghormatan berupa karangan bunga sampai beberapa kilometer dari rumahnya.
Ada sebagian masyarakat bahkan dari masyarakat betawi sendiri yang mengatakan bahwa FBR adalah identik dengan premanisme. Jika hal nya demikian tidak mungkin meninggalnya saja banyak orang yang kehilangan bahkan banyak pemuka-pemuka pemerintahan dan pemuka agama ikut menyemayamkannya. Beliau adalah sosok pemimpin yang berani dan memiliki landasan agama yang cukup tinggi.
Selain H. Fudholi El Muhir meninggal juga seorang calek orang betawi dari dapil Jakarta Utara yaitu H. Nahrowi, beliau di calonkan dari partai HANURA. Satu bulan sebelum H. Fudholi El Muhir.

CALEG KUAT DARI BETAWI LAINNYA

Seperti pernah saya tulis dalam tulisan saya sebelumnya. Banyak caleg dari kalangan betawi. Tetapi yang gaungnya terlihat jelas tidak semua. Hal ini berhubungan dengan kemampuan finansial yang dimiliki dan pengaruhnya di masyarakat.
Seperti contoh H. Fudholi beliau dengan Forum Betawi Rempugnya (FBR) mampu mencapai tingkat politik yang tinggi. FBR adalah kendaraan politik beliau. Tanpa kendaraan politik caleg tidak mungkin menang.
Selain kendaraan politik diperlukan juga kemampuan finansial yang tinggi, sehingga dapat memenuhi kegiatan kampanye dan kegiatan kemasyarakatan yang akan menunjangnya.
Beberapa tokoh seperti H. MANDRA HS caleg DPR No. Urut 2 dapil Jakarta timur diusung partai PAN, sebelum sukses di dunia politik mandra telah tenar sebagai pemain lenong. Lenong dan kecukupan finansiallah yang menyebabkan H. Mandra HS siap mencalonkan diri sebagai Caleg.
Ada juga H. HASBIALLAH ILYAS yang cukup kuat finansialnya. Beliau adalah pengusaha muda. Dicalonkan dari partai PKB. Caleg PKB No. Urut 1. terjun keduania politik belum lama setelah sadar bahwa hidup di jakarta perlu berpolitik. Soalnya jika tidak siapa lagi yang akan memperjuangkan masyarakat. Umumnya harga diri masyarakat Betawi. Karena hidup tidak cukup dengan “kecukupan materi saja”. Tetapi hidup harus menjadi bermanfaat bagi banyak orang, terutama agama, suku, bangsa dan negara.
Masih banyak caleg betawi lainnya yang jumlahnya kira-kira puluhan orang, namun penulis belum sempat melakukan survey lebih jauh lagi karena keerbatasan waktu. Mudahmudahan banyak dari kalangan betawi yang nantinya menjadi pemimpin rakyat. Amiin.

Rusdi Darmawan
2 April 2009

No comments: